Minggu, 17 Mei 2009

Aksi tutup mulut Wartawan di BI

Sabtu, 16 Mei 2009
PALU – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Sulawesi Tengah (SJST), Kamis (14/5) mendatangi kantor Bank Indonesia (BI) di Jalan Sam Ratulangi Palu. Aksi protes terhadap aksi kerasan dengan dialami reporter SCTV Jakarta Carlos Pardede oleh security BI, dilakukan dengan menutup mulut dengan lakban.
Aksi melakban mulut ini sebagai protes atas masih adanya kekerasan yang dialami oleh wartawan dalam setiap melakukan tugas jurnalistik, oleh oknum-oknum tertentu. SJST juga mengecam aksi kekerasan yang dilakukan security BI terhadap Carlos Pardede. Kedatangan puluhan wartawan yang berasal dari media cetak dan elektronik lokal dan nasional ini, langsung mendapat penjagaan ketat aparat kepolisian. Pintu masuk menuju kantor BI, langsung dipagar betis puluhan polisi. Seorang petinggi BI Palu sempat keberatan dengan aksi yang dilakukan di pintu masuk kantor BI, dengan alasan mengganggu jalur masuk nasabah BI yang akan bertransaksi. Meski demikian, aksi tetap berjalan aman.
Koordinator aksi Aprisal meminta agar pihak BI tidak mempekerjakan oknum-oknum security yang berwatak preman dan suka melakukan kekerasan.
Sementara Efrain Limbong, wartawan Harian Garda Sulteng dalam orasinya mengecam tindak kekerasan yang dialami oleh Carlos Pardede. “Hari ini mungkin Carlos, besok pasti kita, atau anda-anda semua yang mengalaminya. Olehnya, kita harus lawan premanisme,’’ tegas Efrain.
Sekertaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu Iwan Lapasere, juga menyatakan hal senada. Aksi kekerasan yang menimpa Carlos Pardede kata Iwan, adalah tindakan brutal yang harus dilawan bersama.
“Teman kami Carlos Pardede menjadi korban pengeroyokan aparat BI Pusat kemarin, dan kita tidak tau lagi hari-hari esok saya atau teman-teman yang lain menjadi korban pemukulan dari para oknum, apakah ini harus terus di biarkan?,” teriak Iwan.
Sekitar satu jam berorasi, massa SJTS akhirnya ditemui Deputi Kepala BI Palu Ilham Soeroer. Secara kelembagaan, Ilham meminta maaf atas perlakukan tidak terpuji yang dialami wartawan di Jakarta.
“Tuntutan teman-teman kami terima dan akan segera kami kirim ke BI pusat. Kami berharap, kami tetap bisa bermitra dengan kawan-kawan pers,” tandas Ilham Soeroer.
Aksi kemudian berakhir setelah sejumlah wartawan melepas alat kerja seperti kamera foto, kamera video dan kartu pers, dan meletakkannya di aspal depan pintu masuk BI. Hal itu perlambang duka cita atas kriminalisasi terhadap pekerja pers di mana saja.(hamsing/syarif)

Tidak ada komentar: