Poso - Penembakan pendeta Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Irianto Kongkoli merupakan kegagalan kepolisian untuk mengamankan situasi Poso dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Demikian penegasan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi Edmon Leonardo Siahaan yang dihubungi VHR melalui telepon, Senin (16/10).
“Sebab, kejadian penembakan ini terjadi di pusat kota yang ramai. Setelah saya membuat denah lokasi kejadian, ada dua titik pos polisi (di sekitar tempat kejadian). Tapi kenapa setelah terdengar bunyi tembakan, polisi tidak berbuat apa-apa? Jadi, percuma saja. Ini kegagalan polisi untuk mengamankan, memberi rasa aman warganya,” katanya.
Menurut Edmon Leonardo, diduga keras motif penembakan itu untuk memperkeruh situasi Poso secara umum. “Saya kira motifnya jelas. Korban adalah Sekretaris Umum GKST yangg selama ini cukup keras bersuara soal kemanusiaan, soal konflik (Poso). Saya kira ini bukan acak lagi korbannya. Ini korbannya sudah orang-orang terpilih.”
Walau kepolisian menyatakan situasi Poso pasca-eksekusi Tibo Cs aman dan kondusif, toh terjadi beberapa kejadian yang meresahkan masyarakat. Sabtu lalu terjadi peledakan bom di kantor Bupati Poso. Tidak ada korban dalam peristiwa itu.
“Saya kira dari beberapa kejadian di Palu menjelang Lebaran, menjelang Natal, itu aparat keamanan selalu kecolongan. Sekali lagi saya sayangkan, kegagalan polisi memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kegagalan dalam mengamankan masyarakat,” ujarnya.
Dia mempertanyakan mengapa untuk kota Palu yang relatif kecil ternyata jalur masuk senjata atau amunisi itu tidak terlacak oleh aparat keamanan. “Padahal, begitu banyak aparat di Sulawesi Tengah. Mobilisasi Brimob, mobilisasi intelijen dari berbagai kesatuan saya kira sudah menumpuk di Sulawesi Tengah, kan. Tapi kenapa tidak bisa preventif sifatnya?” ujarnya.
Menurut Edmond terjadi kesalahan persepsi soal kondisi keamanan di wilayah itu dan cara mengatasinya. “Kondisi kondusif menurut aparat keamanan adalah mobilisasi pasukan tempur. Dari awal saya bilang, untuk mengamankan bukanlah dengan mobilisasi pasukan tempur, tapi polisi yang bersifat bimas (bimbingan masyarakat). Pendekatan persuasif. Yang mengerti soal perdamaian, soal rekonsiliasi. Jadi, bukan dengan pasukan tempur.”
Dia menambahkan, orang-orang sekarang berkumpul di Rumah Sakit Bala Keselamatan. “Karena korban merupakan pimpinan sinode GKST. Kita tahu ada ratusan gereja berada di bawah naungan sinode. Saya kira polisi harus cepat merespons ini. Karena peritiwa seperti ini, penembakan-penembakan, tidak pernah terungkap,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, tadi pagi sekitar pukul 08.15 WITA Pendeta Irianto Kongkoli, pendeta Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang juga Sekretaris Umum Sinode GKST, tewas akibat ditembak orang tak dikenal di Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Palu Selatan. (Arwani/E1)
Kamis, 26 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar