Senin, 13 April 2009

Polda: Satu Suara Berubah Kami Kejar

Apr 13, 2009 at 08:11 AM
MANADO— Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang (SHS) meminta penyelenggara pemilu semua tingkatan di Sulut bekerja jujur, adil, benar dan transparan. ‘’Jangan nodai demokrasi kita dengan berbuat curang dan menabrak aturan,’’ katanya kepada koran ini, tadi malam.
Disinggung kasus Mariri I, SHS mengatakan semua pihak harus menahan diri dan jangan langsung apriori. Tetapi agar semua pihak tenang, SHS meminta Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut secepatnya melakukan verifikasi di lapangan. ‘’Itulah cara untuk membuktikan benar tidaknya dugaan manipulasi suara, sekaligus membuat masyarakat tenang dan menerima hasil pemilu,’’ katanya.
Gubernur pertama pilihan rakyat Sulut ini meminta para pelanggar pemilu harus ditindak. ‘’Kalau terbukti bersalah, siapapun harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu,’’ katanya. Tindakan hukum itu diberikan kepada tim sukses, caleg, petugas pemilu atau para penyelenggara pemilu di semua tingkatan. ‘’Serahkan kepada aparat penegak hukum,’’ katanya.
Di sisi lain, berkaca pemilu-pemilu sebelumnya, proses rekapitulasi suara di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) sangat rawan terjadi kecurangan. Sesuai skedhule Pemilu 2009, rekapitulasi ini berlangsung 11 hingga 15 April, lusa. “Satu suara berubah, kami kejar,” tegas Kapolda Brigjen Pol Drs Bekto Suprapto Msi lewat Kabid Humas AKBP Benny Bella.
Menurut Bella, Kapolda Bekto meminta semua pihak dapat menjaga proses pemilu ini supaya dapat berjalan aman dan lancar. “Semua pihak, sebagaimana tugas dan kewenangannya, agar dapat menjaga jalannya pemilu,” ujar Bella.
Polda Sulut tak henti mengingatkan penyelenggara pemilu untuk berlaku jujur dan adil. Menurut Bella, aparat kepolisian tidak akan ragu menindak pihak-pihak yang sengaja membuat kualitas pemilu di Sulut menjadi buruk. Bila kualitas pemilu buruk, bisa memicu terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. “Karana itu, operasi yang bersandikan mantap brata yang saat ini masih berjalan, tetap disiagakan,” katanya.
Bella menilai, tindak kecurangan memungkinkan terjadi. Apalagi saat rekapitulasi suara di PPK. “Makanya, aparat yang bertugas untuk lebih waspada melihat semua indikasi yang mengarah pada kecurangan di PPK,” lanjut Bella. “Jadi jangan coba-coba berlaku curang dalam pemilu. Karena, akan ditindak tegas,” warningnya berulang-ulang.
Kecurangan dalam pemilu sangat penting untuk diwaspadai karena dampak negatif yang ditimbulkan dari kecurangan ini, menurut Bella, bisa mengganggu stabilitas daerah. “Jadi jangan coba-coba,” tandas Bella.
Senada disampaikan Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sulut Anton Miharjo. “Panwaslu dan kepolisian harus menjaga jangan sampai terjadi kecurangan,” katanya.
Personil KPU Sulut Rivai Poli mengatakan, kecurangan di PPK sangat tidak mungkin terjadi. Pasalnya, Panwaslu dan kepolisian ikut mengawasi. “Surat suara ke PPK dalam keadaan tersegel dan baru bisa dibuka saat akan dihitung dibawah pengawasan Panwaslu,” terangnya.
Kekhawatiran KIPP terjadinya peluang kecurangan karena tingkat Golput di pemilu ini besar. Sehingga sangat rawan terjadi manipulasi suara, terutama di daerah terpencil. Seperti Sangihe, Talaud, Sitaro, Bolmong, Bolmut, Bolsel dan Boltim.
Data KIPP, Golput kali ini bisa mencapai 40 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Sulut. “Golput di Sulut berkisar 35 sampai 40 persen, paling banyak diperkotaan,” kata Anton.
Dijelaskannya, tingginya jumlah Golput di perkotaan disebabkan beberapa hal. Diantaranya, persoalan DPT yang sempat membuat Pemilu terancam diundur. “Kalau dalam satu keluarga hanya satu orang yang terdaftar, seluruh anggota keluarganya memilih tidak memilih,” terangnya.
Menurutnya, kekecewaan masa lalu masih menjadi penyebab tingginya Golput. Ini dikarenakan masyarakat telah skeptis terhadap Pemilu. “Terlalu banyak partai dan pilihan membuat rakyat bingung, sehingga ada yang akhirnya tidak memilih,” tuturnya. “Tingginya pemilih Golput akan berdampak pada BPP untuk menentukan jumlah kursi,” tukasnya.
Personil KPU Sulut Franky Tulungen mengatakan, jumlah Golput di pedesaan relatif rendah. Menurutnya, warga pedesaan terlihat berbondong-bondong ke TPS pada 9 April lalu. “Mereka sangat antusias karena punya jagoan masing-masing,” terangnya.
Namun, ia belum mau memperkirakan berapa jumlah Golput pada Pemilu kali ini. “Kalau sudah ada data valid baru bisa bicara. Saya tidak mau berandai-andai dan akhirnya salah bicara,” ujar Tulungen. (cw-06/cw-01)

Tidak ada komentar: