Selasa, 26 Mei 2009
TENTENA: Musyawarah adat yang pertama kali digelar di Poso berlangsung selama tiga hari sejak Selasa hingga Kamis (19-21/5) lalu, diikuti perwakilan kepada etnis, suku yang berada di Poso seperti etnis, Pamona dari Poso, Mori dari Poso, Bungku dari Morowali, etnis, Kaili, Jawa, Bugis, Gorontalo, Taa, Wotu dan Batak.
Musyawarah adat yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) Poso berlangsung di Aula Hotel Pamona Indah dibuka Selasa lalu oleh Bupati Poso Piet Inkriwang dihadiri unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Poso.
Bupati Piet berharap, musyawarah adat akan menghasilkan gebrakan yang luar biasa untuk harmonisasi di Poso. “Hasilnya akan kita lihat karena musyawarah akbar ini dihadiri para tokoh adat, pertemuan akbar untuk mempersatukan sesama etnis, menjalin komunikasi dan silaturahmi agar tidak ada lagi pertentangan diantara kita, karena kita semua tidak ingin Poso kembali pada tahun 1998,” kata Piet dalam pidato sambutan membuka musyawarah adat.
Dalam pergaulan sesama etnis di Poso. Piet meminta jangan ada dendam, iri hati, cemburu karena melihat etnis satu maju dan etnis lainnya mundur. “Jangan sampai perasaan kita dipisahkan karena ada sumbu perbedaan etnis dan agama sehingga gampang dipecah-pecah, semua etnis di Poso harus jadi pemersatu bagi pembangunan dan perdamaian di Poso,” kata Piet.
Ketua adat Pamona J.Santo mengaku, suku pamona sebagai pemilik tanah Poso sangat terbuka bagi etnis lainnya. “Suku pamona adalah suku yang terbuka dan toleran, sangat menghargai saudara-sudara dari suku lainnya,” kata J. Santo. Bahkan, pamona memiliki budaya yang kuat dalam menerima setiap tamu dari golongan suku dan agama apapun, budaya itu kental dalam ritual yang dikenal padungku, semua ritual untuk mengucapkan syukur atas panen atau keberhasilan yang diterima, dalam budaya itu, semua rumah-rumah suku pamona terbuka bagi siapa saja untuk memberi hidangan makanan bahkan membawa pulang hasil panen oleh para tamu.
Ketua Etnis Kerukunan Keluargo Wotu Ampai Kaisanan mengatakan, semua tokoh adat berharap muyawarha adat akan menyatukan langkah seluruh suku yang ada di Poso untuk membantu Pemda Poso dari segala bidang terutama untuk keamanan dan pembangunan.
Semantara Kapolres Poso AKBP Adeni Mohan dalam sabutannya meminta Lembaga adat bisa menjadi filter terakhir bagi keamanan Negara. Para pendatang yang berasal dari suku manapun mambawa agama dan budayanya masing-masing maka ketika berada di Poso harus dapat menghargai adat, suku budaya Poso. “Jangan memaksakan budayanya atau bahkan melarang budaya setempat, saling menjaga toleransi sesama suku dan budaya, kita tinggal di Poso harus memiliki tekad untuk membangun Poso tidak sekedar menumpang hidup karena kita telah menjadi bagian dari masyarakat Poso,” ujar Adeni.(bandy)
Senin, 25 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar